Jumat, 10 Oktober 2008

Keroncong, akankah diminati generasi mendatang ?

Ketika saya mencari download mp3 lagu keroncong, ternyata situs yang menyediakan tidak banyak & inipun hanya terbatas pada lagunya Sang Legendaris "walangkekek" Waljinah. Di era tahun 70an yang namanya Lagu2 Keroncong begitu booming nya, artis2nya pun jadi nge-top, rasanya tidak ada yang tak kenal sama Waljinah, Mus Mulyadi, Wiwik Soembogo, Natalia Seiko dan banyak lagi lainnya.
Sekarang ini mungkin untuk menemukan lagu2 keroncong baru amatlah sulit, kalau tidak mau dikatakan "hidup segan-mati tak mau", walau sebenarnya artis2 penyanyi itu mempunyai kumpulan HAMKRI, tapi eksistensi mereka se akan2 tenggelam oleh jenis2 musik2 lainnya. Saya belum berhasil meng-interview Sang Legendaris Waljinah (karena janji dari sang suami untuk menyediakan waktu bincang2 tentang Waljinah ternyata gagal tanpa pemberitahuan dan alasannya sedikit juga) untuk tahu lebih banyak tentang kegiatan HAMKRI saat ini.

Sekelumit keadaan penyanyi keroncong saat ini saya dapatkan dari obrolan dengan Ibu Natalia Seiko, wanita yang saat ini telah ber usia senja.Terlahir dengan nama Siti Suwarsiki, yang kemudian populer dengan nama Seiko setelah bergabung bernyanyi dengan band Ayodya di tahun 1967. Penyanyi keroncong ini pernah membuat 4 album berduet dengan Mus Mulyadi dalam bentuk piringan hitam, tetapi album2 ini dipasarkan ke Suriname bukan untuk konsumsi dalam negeri. Saat permintaan manggung mulai sepi, Ibu Seiko mencari peluang usaha lain, yaitu merias pengantin khas Solo. Beauty Salon yang berada dirumahnya yang asri ditengah kota Solo diberi nama Puspa Jelita. Diakui olehnya bahwa permintaan untuk bernyanyi saat ini sangat kurang sekali, maka pilihan menjadi perias pengantin adalah tepat. Jadi Ibu Seiko selain dikenal sebagai penyanyi keroncong, sekarang ini juga dikenal sebagai perias pengantin yang handal. Pengalaman merias pengantin juga di ajarkan olehnya pada ibu2 & remaja putri dikalangan kelurahan ditempat ia tinggal.

Waljinah yang lahir di Solo 7 Nopember 1945 pernah menjadi juara Bintang Radio Indonesia tahun 1965 begitu populer dan dikenal hingga sekarang, beberapa lagu keroncong yang sering dinyanyikan olehnya adalah : Walangkekek, Jangkrik Genggong, Kacu Biru, Pamitan & Rujak Uleg.

Generasi berikutnya untuk artis penyanyi keroncong yang cukup populer adalah Sundari Soekotjo. Putri dari Bapak Soekotjo Ronodihardjo, begitu tampak nJawani, cantik dan penuh pesona, 20 tahun lebih muda dibanding Waljinah, Sundari Soekotjo lahir di Jakarta 14 April 1965. Beberapa kali ikut pemilihan bintang radio, tahun 1978 menjadi finalis dan tahun 1979 ia merebut juara kedua, penyanyi yang dikalangan keluarga dipanggil Unti saat itu ketahuan mencuri umur, dia waktu itu baru berumur 14 tahun dan masih sekolah di SMP Negeri 80 Halim Jakarta Timur, padahal syarat minimal umur adalah 15 tahun untuk bisa ikut dalam kelompok penyanyi dewasa wanita.


Baru pada tahun 1983 Unti terpilih sebagai juara pertama Pemilihan Bintang Radio & Televisi Indonesia. Dikenal oleh masyarakat sebagai penyanyi keroncong, tapi selebihnya dia juga ber profesi sebagai Guru Kesenian SMA Negeri 38 Jakarta, Presenter dan Dosen di Univ. Negeri Jakarta.
Lagu Keroncong juga pernah dinyanyikan oleh kelompok musik legendaris Koes Plus dengan versi yang khas dengan ciri Koes Plus. Dulu lagu2 keroncong sering diperdengarkan oleh radio siaran swasta, sekarang ini mungkin tinggal beberapa radio yang setia memperdengarkannya pada pendengarnya. Setelah dua legendaris (Waljinah & Sundari Soekotjo) tidak ada lagi (atau belum ?) legendaris2 baru yang muncul, sementara pemilihan bintang radio & televisi jenis lagu keroncong pun sudah tak ada. Lagu2 keroncong baru & penyanyi baru yang mau menyanyikannya makin jarang. Akankah keroncong diminati generasi mendatang ? Ini semua kita kembalikan pada mereka yang berkecimpung di langgam keroncong, HAMKRI, Waljinah, Sundari Soekotjo dan tokoh2 keroncong lainnya, mampukah mereka mengembalikan citra kejayaan lagu keroncong ? Dan apakah pemerintah akan memberi perhatian pada lagu2 keroncong yang mau tidak mau adalah salah satu ciri budaya bangsa ? Jangan sampai nanti tiba2 negara sebelah mengakui Lagu2 Keroncong asalnya dari mereka, baru pemerintah kebakaran jenggot.
walangkekek, menclok nang tenggok mabur maneh, menclok nang pari ojo ngenyek yo mas, karo wong wedho yen ditinggal lungo, setengah mati

8 komentar:

  1. mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis www.kumpulblogger.com yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran

    BalasHapus
  2. Masih di Jkt Gus? Terima SMS saya gak?

    BalasHapus
  3. kayaknya gak dimainkan lagi deh , soalnya anak jaman sekarang tahunya rock and pop he..he..he

    BalasHapus
  4. Saya suka keroncong kok Pak^^
    Mungkin kita harus mengemas keroncong supaya menarik minat remaja ...
    Sekali lagi pemerintah tidak bisa menjaga dan mengembangkan kekayaan nya sendiri..

    BalasHapus
  5. Keroncong adalah musik mewah "Delux"
    Keroncong banyak ditampilkan di gedung-gedung bagus layaknya hotel bintang 5.
    Tidak seperti musik anak muda jaman sekarang, yang di tampilkan di lapangan terbuka (berjubel,bau keringat kanan-kiri,...beuh,preett)

    BalasHapus
  6. ulasan anda cukup tajam...salute !!

    Regard
    Arief
    Sound of spirit

    BalasHapus
  7. wah semprul tenan nih blog, mosok judulnya diatas 40 tahun
    hahaha.... salam kenal aja dech

    BalasHapus
  8. Boleh ditinjau pemahaman grup kami atas keroncong di youtube : http://www.youtube.com/watch?v=F7Wgq2OHlJo
    mudah-mudahan berkenan, seperti yang kita tampilkan di IKF Solo 4 Dec 08

    BalasHapus